BANJARMASIN – Upaya memperkuat literasi sejarah di tengah arus media sosial terus didorong. Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin menggelar workshop penulisan artikel sejarah, Kamis (23/4/2026), di Hotel Roditha.
Kegiatan ini diikuti sekitar 60 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dua narasumber dihadirkan, yakni Mansyur dari Universitas Lambung Mangkurat dan Mursalin dari Universitas Islam Nasional.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Banjarmasin, Emil Salim, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam upaya pelestarian sejarah lokal. Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga menjadi identitas dan fondasi dalam membangun masa depan daerah.
Ia menambahkan, masih banyak potensi sejarah lokal yang belum terdokumentasikan dengan baik. Karena itu, kemampuan menulis artikel sejarah yang benar, sistematis, dan berbasis ilmiah perlu terus ditingkatkan, khususnya di kalangan generasi muda.
Sementara itu, Mansyur menilai workshop ini menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap sejarah daerah. Ia mengemukakan bahwa sejarah lokal kerap terabaikan, padahal menyimpan nilai dan pelajaran yang relevan dengan kondisi masa kini.
Ia menegaskan bahwa penulisan sejarah harus dilakukan secara cermat dan bertanggung jawab. Proses penelusuran sumber, baik dari arsip, literatur, maupun sejarah lisan, perlu dilakukan secara teliti agar menghasilkan tulisan yang akurat dan tidak bias.
Menurutnya, selain akurasi, aspek narasi juga tak kalah penting. Tulisan sejarah harus mampu menghidupkan peristiwa masa lalu agar menarik dibaca, terutama oleh generasi muda yang terbiasa dengan konten digital.
Mansyur juga mendorong peserta untuk menggali sejarah dari lingkungan terdekat, seperti kampung, tokoh lokal, hingga tradisi masyarakat. Dari sana, dapat lahir tulisan yang otentik dan berkontribusi dalam memperkuat identitas daerah.
Di sisi lain, Mursalin menekankan pentingnya kualitas tulisan agar dapat menjangkau pembaca luas. Ia menilai, tulisan sejarah harus disusun secara terstruktur, akurat, dan mudah dipahami di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia juga menyarankan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu dalam penulisan. Namun, penggunaannya tidak boleh sepenuhnya diandalkan, melainkan hanya sebagai referensi atau pembanding struktur tulisan.
“Penulis tetap harus menghasilkan karya sendiri, termasuk dalam menyusun sumber dan argumentasi,” tegasnya.
Workshop ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah lokal di tengah perkembangan zaman.
