BANJARMASIN, Kecamatan Banjarmasin Timur terus melakukan inovasi dalam pengelolaan lingkungan dengan mengembangkan program lubang biopori sebagai solusi menekan sampah organik. Program ini menjadi langkah konkret pemerintah kecamatan dalam mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus mendorong pola hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat.
Camat Banjarmasin Timur, Roenissa, mengatakan bahwa pihaknya menargetkan pembangunan sebanyak 20 titik lubang biopori yang akan tersebar di sejumlah lokasi strategis. Hingga saat ini, sebanyak 5 titik telah berhasil dibuat dan sisanya akan dikerjakan secara bertahap sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Menurutnya, lubang biopori tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengelolaan sampah organik, tetapi juga memberikan manfaat ekologis lainnya. Di antaranya adalah meningkatkan daya serap air ke dalam tanah serta membantu mengurangi potensi genangan air, khususnya saat musim hujan.
Roenissa menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, pihak kecamatan aktif mengajak warga untuk memanfaatkan lubang biopori dengan memasukkan sampah organik rumah tangga secara rutin.
Selain itu, pemerintah kecamatan juga akan menggandeng berbagai pihak seperti RT dan RW, komunitas peduli lingkungan, hingga sekolah-sekolah guna memperluas jangkauan program ini. Edukasi terkait pentingnya pengelolaan sampah organik juga terus digencarkan agar masyarakat memiliki kesadaran yang lebih tinggi.
Ke depan, evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan setiap titik biopori berfungsi secara optimal. Evaluasi ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan sehingga program dapat terus disempurnakan.
Dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, Kecamatan Banjarmasin Timur optimistis target 20 titik biopori dapat tercapai. Program ini diharapkan tidak hanya mampu mengurangi sampah organik, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang efektif, sederhana, dan berkelanjutan bagi wilayah lainnya.
