Negara yang Gagap Membaca Derita: Belajar dari Tragedi Kendal

Negara yang Gagap Membaca Derita: Belajar dari Tragedi Kendal

PENULIS: Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si
(Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

DI SEBUAH rumah sunyi di Kendal, kematian tidak datang dengan ledakan atau jeritan. Ia datang perlahan, menyusup lewat lapar, sakit, dan keputusasaan. Seorang ibu membusuk dalam kesendirian, sementara dua anaknya bertahan hidup di ambang maut. Dan negara yang katanya hadir untuk melindungi, tak pernah mengetuk pintu itu.

Tragedi ini bukan sekadar kisah kemiskinan ekstrem. Ia adalah kisah tentang manusia yang dilupakan, tentang penderitaan yang tak terbaca, dan tentang negara yang kehilangan kepekaan paling dasar, rasa kemanusiaan.

Bayangkan hari-hari yang dilewati dua anak itu. Bangun pagi tanpa makanan, siang tanpa harapan, malam dengan tubuh lemah dan ketakutan yang menggantung. Di samping mereka, jasad sang ibu terbaring kaku, membusuk bersama waktu yang terus berjalan.

Kematian sang ibu bukan peristiwa mendadak. Ia adalah proses panjang yang seharusnya bisa dicegah. Tetapi negara tak pernah hadir lebih awal, tak pernah membaca tanda-tanda, tak pernah mendengar jerit sunyi dari rumah yang terkunci itu.

Negara gemar berbicara tentang angka kemiskinan yang menurun dan bantuan sosial yang meningkat. Namun di Kendal, angka-angka itu runtuh di hadapan satu fakta pahit, ada warga yang mati tanpa pernah disentuh kebijakan. Di sinilah kita menyaksikan ironi paling kejam. Negara hadir dalam statistik, tetapi absen dalam kehidupan nyata. Negara rajin mencatat data, tetapi gagal membaca derita.

Sistem perlindungan sosial bekerja seperti mesin dingin, terdaftar atau tidak, memenuhi syarat atau tidak. Ketika kemiskinan tidak sesuai format administrasi, maka kemanusiaan pun gugur dari prioritas.

Tragedi Kendal menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem bukan hanya soal lapar, tetapi juga soal keterasingan. Mereka tidak hanya miskin secara ekonomi, tetapi miskin perhatian, miskin perlindungan, dan miskin kehadiran negara.

Pertanyaan yang menghantui kita adalah pertanyaan sederhana namun menyakitkan, di mana negara sebelum ibu itu meninggal? Di mana aparat, tetangga yang terorganisasi, dan sistem sosial yang katanya berbasis gotong royong?

Negara baru datang setelah bau kematian tercium. Negara bergerak setelah tragedi menjadi berita. Negara menangis setelah semuanya terlambat. Inilah wajah negara yang reaktif, bukan protektif.

Tragedi ini menelanjangi kegagalan negara dalam menjalankan fungsi paling elementer, menjaga agar warganya tetap hidup. Jika negara tak mampu mencegah kematian akibat kelaparan, maka apa makna seluruh jargon kesejahteraan?

Kendal bukan anomali, melainkan gejala. Ia adalah potret kecil dari ribuan rumah sunyi lain yang mungkin sedang menyimpan tragedi serupa, menunggu waktu untuk ditemukan, atau dilupakan selamanya.

Kita harus jujur mengakui bahwa negara telah terlalu jauh dari rakyat paling bawah. Kebijakan dibuat di ruang nyaman, sementara penderitaan berlangsung di ruang-ruang sempit yang tak pernah dikunjungi.

Negara kehilangan kemampuan mendengar suara paling pelan. Padahal, di situlah letak ujian sejati sebuah negara, apakah ia mampu melindungi mereka yang tak mampu berteriak.

Tragedi Kendal seharusnya mengguncang nurani nasional. Ia adalah alarm keras bahwa sistem perlindungan sosial kita bocor, rapuh, dan tidak berorientasi pada pencegahan.

Negara tidak boleh hanya hadir sebagai penyalur bantuan setelah bencana, tetapi sebagai penjaga kehidupan sebelum maut datang. Kehadiran negara harus terasa sebelum jasad membusuk dan anak-anak kelaparan.

Jika kematian seperti ini terus berulang, maka yang mati bukan hanya rakyat miskin, tetapi juga legitimasi moral negara itu sendiri. Negara kehilangan makna ketika gagal melindungi yang paling lemah.

Tragedi Kendal adalah tuduhan diam terhadap negara. Tuduhan yang tidak diucapkan, tetapi terasa menghantam, negara telah gagal membaca derita.

Sudah saatnya negara berhenti bersembunyi di balik prosedur dan data. Negara harus kembali menjadi manusia peka, hadir, dan bertanggung jawab. Jika tidak, maka rumah-rumah sunyi akan terus menyimpan kematian, dan negara akan terus datang terlambat, sekadar menjadi saksi bisu atas derita yang seharusnya bisa dicegah.[zahidi]
Lebih baru Lebih lama