BANJARMASIN – Tidak hanya saat musim air pasang, memasuki musim kemarau masyarakat yang tinggal di rumah panggung di kawasan rawa juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Penurunan muka air tanah selama musim kemarau dapat memengaruhi kekuatan pondasi sehingga berpotensi menyebabkan bangunan mengalami penurunan, kemiringan, hingga ambruk apabila kondisinya sudah lemah.
Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GATENSI) Kalimantan Selatan, Ir. Khuzaimi, mengatakan fenomena ini perlu menjadi perhatian, terutama di Banjarmasin yang sebagian besar wilayahnya berdiri di atas tanah rawa.
"Selama ini masyarakat lebih banyak mewaspadai dampak musim air pasang terhadap bangunan. Padahal saat musim kemarau, tanah rawa juga mengalami perubahan yang dapat mengurangi daya dukung pondasi," ujarnya.
Khuzaimi menjelaskan, musim kemarau tidak sekadar mengurangi persediaan air, tetapi juga mengubah karakteristik fisik tanah rawa secara mendasar. Ketika kadar air tanah menurun drastis, tanah mengalami penyusutan volume yang cukup besar sehingga daya dukungnya melemah.
Menurutnya, tanah rawa tersusun atas endapan lumpur halus, material organik, serta pori-pori yang selama ini dipenuhi air. Air berfungsi menjaga butiran tanah tetap saling menekan sehingga mampu menopang beban tiang pondasi. Namun saat musim kemarau, air di dalam pori-pori tanah menguap atau meresap ke lapisan yang lebih dalam sehingga tanah mengerut dan menyusut.
Akibatnya, tiang pondasi yang sebelumnya terkunci rapat menjadi lebih longgar. Bahkan dapat terbentuk rongga udara di sekeliling tiang sehingga cengkeraman tanah terhadap pondasi berkurang. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan pondasi yang tidak merata, lantai rumah menjadi miring, dinding retak, hingga bangunan ambruk apabila tidak segera ditangani.
Sebagai studi kasus, kondisi tersebut sangat relevan di Kota Banjarmasin yang didominasi kawasan rawa. Banyak rumah panggung berdiri di atas tanah lunak yang sangat dipengaruhi oleh perubahan kadar air tanah. Karena itu, risiko kerusakan pondasi tidak hanya terjadi saat banjir atau air pasang, tetapi juga ketika musim kemarau berlangsung dalam waktu yang lama.
Di akhir keterangannya, Khuzaimi mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan kondisi bangunan selama musim kemarau, terutama bagi rumah panggung yang berdiri di atas tanah rawa dan lahan gambut.
"Kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi pondasi rumahnya. Apabila mulai terlihat tanda-tanda seperti lantai miring, dinding retak, tiang bergeser, atau muncul penurunan pada bangunan, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan secara teknis. Jangan menunggu sampai kerusakannya semakin parah," katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang membutuhkan pendapat teknis maupun konsultasi mengenai kondisi pondasi rumah dapat berkoordinasi dengan GATENSI Kalimantan Selatan.
"Kami di GATENSI Kalimantan Selatan terbuka apabila masyarakat ingin berkonsultasi atau meminta masukan terkait kondisi pondasi rumah. Dengan pemeriksaan sejak dini, potensi kerusakan dapat diidentifikasi lebih cepat sehingga penanganannya lebih tepat, bangunan tetap aman, dan keselamatan penghuni dapat terjaga," tutup Khuzaimi.[zahidi]
